Syair: Anomali

Anomali - Hallo sahabat puisi,pengertian dari syair dan contoh ragam syair,pengertian syair dan pantun pengertian puisi syair serta pengertian dan contoh syair LIBURAN, Puisi, baca lagi di Pengertian syair Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Anomali, kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel Literasi Tempo, yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Anomali
link : Anomali

Baca juga: sapiens, Pengertian syair


Anomali



"Barang siapa mempunyai sumbangan pada kemanusian dia tetap terhormat sepanjang jaman, bukan kehormatan sementara. Mungkin orang itu tidak mendapatkan sesuatu sukses dalam hidupnya, mungkin dia tidak mempunyai sahabat, mungkin tak mempunyai kekuasaan barang secuwil pun. Namun umat manusia akan menghormati karena jasa-jasanya."
— Pramoedya Ananta Toer

Saya benci meletakkan Pramoedya pada pembuka tulisan ini. Ibarat jarum, matanya terlalu kecil untuk dikail benang paling tipis atau rumah yang halamannya terlalu luas untuk memelihara seekor anjing pemabuk yang malas membersihkan kotorannya. Tapi selalu saja, jarum itu membuat saya menemukan cara menjahit dengan apik kemeja yang sobek di punggungnya atau rumah itu memberi alasan untuk membersihkan halaman di tengah kesenangan saya tidak melakukan apa-apa. Pram sialan!
Sampai di sini, saya ingin menghapus kalimat pertama di atas dan membiarkannya hidup sebagai teman perjalanan petualang muda yang sibuk menghabiskan waktu menikmati keindahan alam. Mereka melakukan itu sebagai wujud kecintaan terhadap negara. Menganggap apa yang mereka lakukan sebagai sumbangan terbaik. Saya bersyukur. Setidaknya, ada orang yang merasa lebih mencintai negara ini dari pada orang lain.
Baiklah, kita mulai dengan kalimat, “Mungkin orang itu tidak mendapatkan....” Pram ragu dan membuka kalimat ini dengan kata mungkin. Untuk selanjutnya, saya menemukan banyak sekali peringatan di sini. Jurang yang terlalu curam atau asap yang terlalu tebal. Kabur dan berbahaya.
Saya berhenti pada penggalan mungkin yang kedua. Merasakan kesepian lebih tua dari umur saya. Melihat dunia lebih kecil dari kepala saya. Menyaksikan peluru membantai ingatan saya. Saya membaca mungkin selanjutnya dan tidak menemukan apa-apa. Kesepian membekas dan saya bertahan – atau didesak tidak beranjak, dari mungkin yang kedua.
Mungkin dia tidak mempunyai sahabat.
Saya ditanya oleh Aku, “Apakah kau punya sahabat?” Saya mengingat banyak nama dan sedikit sekali peristiwa. Saya mereka banyak sekali perjalanan dan tidak menemukan jalan pulang. Saya diam. Semua boleh tertawa. Saya diam. Tidak ada gelak. Saya tidak menjawab pertanyaan itu.
Malam boleh gelap, tapi pertanyaannya adalah, apakah kau butuh cahaya? Dunia terlalu padam untuk penakut seperti saya. Recehan 100 perak yang ingin membeli satu lampu jalan dan menanamnya di mana-mana.
Di jalan pulang, saya menemukan Pram sedang menggali masa silam di halam rumah. Saya takut. Bongkahan hitam yang diangkatnya dari tanah berdenyut. Cepat sekali. Lebih debar dari degup jantung yang saya kumpulkan sepanjang hidup.
Lelaki tuli itu bertanya, “Apakah kau punya sahabat?” Anjing pemabuk menjulurkan lidah. Liurnya adalah kesunyian. Senyap yang membesarkan suara retakan ranting atau kata terserah yang membuat kekasih menjungkirkan nalar terkaan. “Punya.” Saya menjawabnya dengan membiarkan bongkahan hitam itu menyerap seluruh bayangan di sekitar tubuh yang mungkin Aku.
Kini, saya membiarkan kalimat terakhir pada pembuka tulisan ini menjadi buta dan cenderung melenyapkan diri entah ke mana. “Apakah sahabat saya adalah orang-orang yang ingin dan akan dihormati karena jasa-jasanya?”
Saya tidak mengenal mereka cukup dalam. Tapi saya tahu bahwa mereka kumpulan orang yang tidak senang menghabiskan harta orang tua demi foya dan kesemuan. Mereka pemalas yang sadar bahwa menjadi rajin dan ambisius berarti membiarkan dunia ini dipenuhi robot-robot pekerja. Mereka berdiri memunggungi tembok-tembok kota dan menciptakan desa di dalam dirinya. Mereka anak-anak yang takut menjadi dewasa. Hidup mereka anomali dan saya mencintainya.
Pram, biarlah kami, yang saling menghormati dan saling menjasai.
Sampai di sini, saya membiarkan kalimat pertama dan terakhir pembuka tulisan ini bertemu di halaman rumah, “Barang siapa mempunyai sumbangan pada kemanusian dia tetap terhormat sepanjang jaman, bukan kehormatan sementara. Namun umat manusia akan menghormati karena jasa-jasanya.” Sebab manusia dan kemanusian tidak pernah tinggal di rumah yang sama, sebagai sahabat atau keluarga.




Demikianlah Artikel Anomali

Sekianlah artikel Anomali kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda sekarang membaca artikel Anomali dengan alamat link Sapiens
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
Related Post
Literasi Tempo